apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengar kata "Bulungan" ?
Yah, salah satu gelanggang olahraga (GOR) di daerah kebayoran baru jakarta selatan. tapi tahukah kalian jika Bulungan itu sendiri berasal dari sebuah kabupaten di kalimantan timur bagian utara yang saat ini dalam masa peralihan (jika UU sudah ditetapkan) dari daerah pemekaran menjadi daerah ibukota? yaitu kalimantan utara (semoga UU-nya cepat di sahkan).
nah, inilah sekelumit cerita tentang Bulungan di mata kami para remaja-remajanya.
Konon cerita asal-usul suku Bulungan dimulai dari kisah kehidupan Ku Anyi, Ku Anyi adalah seorang kepala Suku Dayak Hupan (Dayak Kayan Uma Apan) mereka tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan.
Hingga masa tuanya Ku Anyi ternyata belum dikaruniai seorang anak. ketika suatu hari, pada saat Ku Anyi berburu di hutan, ia mendengar suara aneh. Anjing berburunya menyalak keras kearah sebatang bambu betung dan sebutir telur diatas pohon Jemlai. Karena rasa penasarannya, bambu betung dan sebutir telur tersebut dibawanya pulang dan diletakan di perapian dapur. Keesokan harinya kedua benda tersebut berubah menjadi dua sosok bayi mungil laki-laki dan perempuan. Akhirnya, Ku Anyi dan Istrinya memberikan nama Jau Iru yang artinya “si Guntur Besar” pada bayi laki-laki dan Lemlai Suri pada bayi perempuan tersebut, keduanya dipelihara dengan baik hingga dewasa.
Peristiwa aneh ini oleh masyarakat dinamakan Bulongan (bambu dan telur), pada perkembanganya menjadi Bulungan. Versi lainnya menyebutkan Bulungan berasal dari perkataan “ Bulu Tengon”, karena perubahan dialek dari bahasa bulungan kuno ke bahasa melayu menjadi Bulungan. sebutan ini digunakan sampai saat ini.(http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.com/2010/07/asal-usul-nama-suku-bulungan-dalam.html)
kembali ke zaman sekarang, kultur yang ada di Bulungan yang kaya akan peristiwa sejarahnya lantas membuat para remajanya hidup dalam lingkup budaya yang sangat indah.
sebagai salah satu pemuda yang ada dibulungan, saya sendiri sangat merasakan sekali keterikatan antara "anak tanjung" (sebutan buat remaja di Bulungan) dengan kebiasaan dan budaya yang dilahirkannya. walaupun teman angkatan saya banyak yang kuliah diluar Bulungan seperti di samarinda, bahkan ada yang di pulau jawa. hal ini tak lantas melunturkan budaya Bulungan yang sejak kecil mempengaruhi tumbuh kembang kami.
seperti halnya bahasa, walaupun udah bertahun-tahun meninggalkan Bulungan, ciri khas bahasa Bulungan tak bisa ditinggalkan para remajanya adalah kata-kata "bah", "duy", dan logatnya yang khas selalu menghiasi kata-kata kami saat berbicara.
bulungan yang terdiri dari 3 mayoritas suku (bulungan,dayak,tidung) ini pun hidup tentram berdampingan, dan inilah yang membuat para remajanya selalu rindu.
mungkin ada magnet tersendiri dari dalam kota ini yang membuat kami selalu ingin pulang ketika berjauhan.
home sweet home, itulah kata yang tepat buat kota ini.
kota kecil tapi punya arti besar buat kami. memang bosan kalo punya kota kecil yang tidak punya sesuatu yang "wah" didalamnya, tapi setelah mencoba tinggal dikota besar yang penuh dengan gemerlapnya, ternyata bosan juga. kedamaian itu loh yang tidak ada dikota besar.
Sabtu, 07 Mei 2011
Bulungan di mata para pemuda
Langganan:
Komentar (Atom)