Senin, 25 April 2016

Musik di Bulungan

Berkembangnya seni musik di Bulungan tak lepas dari tangan-tangan dingin para seniman.

Kita flashback sekira 10-15 tahun terakhir. Musik di Bulungan berada dalam masa kejayaannya. Anak muda yang berbakat menampilkan keahlian bermusik mereka di panggung-panggung yang diwadahi oleh pemerintah maupun swasta.
Saya yang ketika itu masih di usia sekolah pun mendapatkan "panggung" saya sendiri. Ada banyak festival yang diadakan baik itu dari pemerintah, radio, taman pendidikan al qur'an, hingga pensi di sekolah, dan masih banyak lagi.

Menjamurnya band-band di era millenium juga layak di apresiasi. Kompilasi lagu mereka yang seliweran di radio lokal pun ramai di request penikmat musik Bulungan.
Studio band juga tidak se-lengang sekarang. Dulu tiap sore selalu ada saja yang latihan bermusik. Entah semangat apa yang mereka punya. Tidak ada iming-iming ikut festival ini itu. Mereka hanya berlatih, memperdalam skill bermain musiknya. Atau hanya sekedar bermain mengisi waktu luang.

Berbeda hal nya dengan sekarang. Saat ini industri musik di Bulungan terlihat lesu tak bergairah. Hanya beberapa pemusik yang masih tetap konsisten bermain musik dan berlatih.
Hal ini bukan tidak ada penyebabnya. Kurangnya wadah bagi para musisi untuk menampilkan karya, kemampuan, dan keahlian lah yang membuat situasi seperti sekarang ini. Adapun mereka yang konsisten bermusik, tetapi jarang mendapat panggung di kota sendiri. Mereka mendapatkan panggung mereka di kota lain. Terdengar miris memang. Ketika pemerintah sibuk mencanangkan kreatifitas anak muda membangun SDM yang berkualitas, tapi kualitas itu ditampilkan di kota lain.
Atau yang lebih menyedihkan, mereka yang berkualitas malah tidak mendapatkan kesempatan untuk menampilkannya. Istilahnya mereka bermain musik tapi hanya tetangga sekitar rumah lah yang menjadi penikmatnya😔.

Setidaknya ketika pemerintah mengadakan perhelatan besar musisi lokal dilibatkan, diajak, dirangkul untuk bisa tampil di panggung sendiri. Tidak masalah dengan penampilan yang kaku, biasa saja, atau cibiran penonton yang menganggap tak baik. Tapi ini merupakan satu lompatan awal musisi untuk saling belajar. Kalau tidak diberi panggung bagaimana mereka bisa belajar? Tidak ada musisi yang langsung hebat ketika bermain diatas panggung. Mereka memulainya melalui acara-acara kecil, dikota sendiri, mental di tempa untuk menampilkan yang terbaik.

Ada yang rindu masa-masa ketika seni musik berjaya di Bulungan ?
Ketika ada banyak pentas, baik itu di lapangan agatish, di depan pujasera, di TPA al-khairat kampung arab, masjid raya, radio RSPD, pensi di sekolah-sekolah.
Ada berbagai kegiatan baik itu lomba karaoke, grup vokal, festival band, kompilasi band.
Semua musisi menyatu dari musik modern, tradisional, metal, sampai musik islami pun mendapat perhatian dan tempat di hati masyarakat Bulungan.

Ayo anak muda Bulungan, hidupkan kembali gairah bermusik di daerah kita tercinta ini. Dan semoga pemerintah memberi perhatian yang lebih untuk musisi Bulungan agar karya-karya mereka bisa lebih didengar dan ditampilkan. 😊 semangaaaat genks !

Senin, 04 April 2016

Hidup Tanpa Passion

Berbicara soal passion atau hasrat maupun minat seseorang terhadap sesuatu memang bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Passion itu sendiri ada di dalam diri manusia bukan hadir begitu saja, ada banyak faktor yang mempengaruhi seperti gen, lingkungan, pola asuh keluarga dan masih banyak lagi.
Jadi passion itu bisa terdeteksi sejak usia dini.

Di masa sekarang ada banyak orang yang kuliah, bekerja dan hidup tidak sesuai passion nya. Menjalani apa yang bukan minat itu ternyata menyakitkan. Ketika sebagian orang bangun tidur dengan rasa bahagia, kita yang "terpaksa" bangun tidur dengan seonggok gumpalan hitam oleh keluh kesah di hati yang entah kapan saja bisa meledak.
Saat sebagian orang living a day dengan penuh semangat, kita dengan semangat yang sudah tinggal di ubun-ubun hanya ingin cepat pulang dan tidur dirumah. Dan di saat sebagian orang bergegas pergi ke peraduan merangkai mimpi untuk mengisi energi baru di esok hari. Kita yang hanya terpaku pada ponsel, berselancar di dunia maya, meratapi diri dengan apa yang seharian ini dijalani.

Mungkin ada banyak orang diluar sana yang pernah merasakan hal serupa. Living a life without passion is like a zombie. Kita hidup tapi tak merasakan apa-apa. Flat, kosong, tidak bergairah. Bersenda gurau dengan sahabat pun rasanya nothing special. It felt like " I just lost my self, I didn't even recognize me. Who am I, who I used to be" dan banyak lagi perasaan aneh yang berkecamuk di dalam hati.

Sebenarnya semua akan baik-baik saja dan terasa mudah saja jika dari awal seseorang mengenali bakat, hobby, dan minatnya. Tapi banyak orang mengesampingkan hal itu. Contoh, seorang anak yang suka memasak dan bisa memasak sejak kecil dan orang tuanya tahu itu. Tapi ketika dewasa di haruskan kuliah kedokteran. Memang si anak akan menuruti karena itu untuk kebaikan masa depannya. Saat dia sudah "terlanjur" bekerja, passion seseorang tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Dia seorang dokter yang cerdas, tapi tak ada yang tahu didalam hatinya dia merasa "terpaksa" melakukan semuanya. Dia tidak bahagia. Dia yang sejak awal merasa passion nya bukan disitu akan berpikir "ah yang penting aku bekerja, yang penting aku dapat gaji, yang penting kewajiban sudah ku lakukan" dia menjalani hari-harinya dengan serba ala kadarnya.

Untuk berani ambil resiko rasanya tak mungkin. Keluar dari zona nyaman juga rasanya enggan. Itu yang pasti orang pikirkan ketika ingin menjalani passion nya. Tapi tak ada salahnya mencoba. If you fail, at least you've tried your best. Dan tak akan ada penyesalan di akhir.

Bekerja sesuai passion atau minat itu menyenangkan lho. Kita bisa bahagia setiap hari karena mencintai setiap detik waktu yang dihabiskan. Mengerjakan pekerjaan dengan ikhlas. Karena ketika kita cinta dengan pekerjaan maka hati akan lebih ikhlas bekerja. Jika ada orang yang appreciate dengan hasilnya kita pun akan semakin bangga.

Seorang sahabat pernah berkata pada saya, "kau masih muda, jalanmu masih panjang. Tidak ada salahnya mencoba. Mumpung belum mempunyai tanggung jawab pasangan dan anak. Coba saja, jika sudah punya tanggung jawab kau akan susah dan berat melangkahkan kakimu untuk keluar" ~ Bang Ded.
Ada benarnya, jika sudah terlanjur memiliki tanggung jawab lebih. Sebagian orang lebih memilih bekerja dan menjalani hidup walau tanpa passion, serta mengesampingkan fakta bahwa dia mempunyai keahlian lain yang bisa bermanfaat. Bekerja ya bekerja saja, yang penting gaji cukup untuk anak istri.
Apa segini saja perjuangan kita sebagai manusia ?
Come on...

Manusia diciptakan unik. Masing-masing orang pasti punya kelebihan. Ayolah.. mulai sekarang yakinkan dirimu. Walau kamu merasa tidak punya kelebihan, coba lihat lebih jeli pasti ada satu hal yang membuatmu spesial di muka bumi ini.
Just don't give up. Memberanikan diri untuk out of the box walaupun akan ada banyak penolakan dari orang disekitarmu setidaknya itu lebih baik. Daripada duduk diam terpaku mengubur passion.
So, apapun passionmu entah itu kesenian, kerajinan tangan, kuliner, musik, dan lain-lain. Just try make it happen and do it with your heart. 😊😙