Jumat, 09 September 2011

Tradisi Beawadh / Iwadh Warga Kampung Arab - Bulungan

Hari raya atau lebaran merupakan hari yang suci yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia maupun di Indonesia. Berbagai macam cara orang menyambut datangnya hari raya, baik itu dengan mengadakan pawai takbiran dimalam harinya sambil menggemakan takbir tanda kemenangan, sampai menyalakan kembang api yang meriah. Sama halnya dengan warga Kampung Arab di Bulungan - Kalimantan Utara. Setiap tahun diadakan pawai takbiran dan pesta kembang api di tepian sungai kayan. Warga yang menyaksikan cukup antusias dan terhibur dengan kemeriahan pawai yang bertabur lampu-lampu hias dan alunan takbir yang menggema. Apalagi menyaksikan kembang api yang tak henti-hantinya menghiasi langit malam hari raya di kampung arab, semuanya menambah syahdu suasana menyambut idul fitri tiba. Sama halnya dengan idul fitri, di hari raya idul adha juga diadakan kegiatan serupa pada malam takbiran.

Kegiatan warga kampung arab di hari raya idul fitri maupun idul adha sejatinya sama tak ubahnya dengan kegiatan warga di daerah-daerah lain. Warga berbondong-bondong menuju masjid di pagi hari untuk melaksanakan shalat ied. 
Masjid jami' Ahmad Al-Kaff adalah masjid tempat berkumpulnya mayoritas warga keturunan arab di Bulungan. Setelah melaksanakan shalat ied berjama'ah di masjid, warga saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Di hari pertama lebaran ini warga masing-masing berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Sampai tibalah keesokan harinya pada hari kedua lebaran, ada satu hal menarik yang biasa dilakukan warga keturunan arab di Bulungan, yaitu be'awadh atau iwadh.

Kata Iwadh berasal dari Bahasa Arab, yaitu ada-yaudu-audan yang berarti kembali. Maksudnya adalah kembali suci. selain bermaksud memfitrahkan diri dengan cara saling bermaafan, Iwadh juga menjadi media pemersatu bagi jamaah yang selama ini tidak pernah bertemu. Iwadh tak digelar serampangan. Tradisi ini hanya dilakukan warga keturunan Arab di Bulungan. Pesertanya pun hanya laki-laki. Iwadh digelar saban tahun. Setiap hari kedua Lebaran. Inti tradisi ini adalah menebalkan tali silaturahim antar sesama keturunan Arab di Bulungan. 

Tradisi Iwadh setiap tahunnya selalu meriah. Iwadh dirayakan dengan tradisi mengunjungi warga muslim keturunan Arab sambil membaca puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta memanjatkan doa bagi pemilik rumah. Selain bersalam-salaman dan bermaafan, kegiatan ini juga dibumbui pemberian hadiah dari sang tuan rumah, baik itu makanan, minuman, souvenir sampai peralatan rumah tangga. Menurut mereka, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dari generasi pendahulunya. 

Iwadh merupakan salah satu peninggalan ulama besar Habib Idrus bin Salim Al Djufrie. Beliau dikenal dengan sebutan Guru Tua dan diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Be'awadh atau iwadh ini biasanya diikuti ratusan warga keturunan arab yang nantinya satu per satu rumah mereka akan dikunjungi, sesi berkunjung ini memakan waktu seharian dari pagi hingga sore hari, dari kampung arab sampai dengan kunjungan ke pesantren al-khairaat yang ada di jelarai.

Selain di Bulungan, tradisi ini juga dijalankan di sejumlah wilayah lain seperti di Palu - Sulawesi Tengah (tempat asal muasal tradisi ini dilakukan oleh Habib Idrus bin Salim Al Djufrie), dan hingga kini masih terus dipertahankan. Bahkan, tradisi Iwadh ini juga telah diikuti oleh banyak umat muslim non-Arab di Bulungan.

2 komentar:

  1. sebuah karya yang bagus sekali saudarai Fauziya, mohon ijin untuk saya unggah di blog saya. terimaksih

    BalasHapus
  2. Terima kasih sudah berkunjung,, iyaa silakan.. :)

    BalasHapus