Yaps, Lepiu-lah nama buah ini. entah darimana asal muasal nama ini diberikan. Tapi orang tua jaman dulu pernah cerita bahwa buah ini dinamakan lepiu karena bentuknya yang pipih dan melonjong membentuk tanda hati/love. Sebab itulah dinamakan Lepiu, plesetan dari kata I Love You. I think so.
Buah lepiu ini sendiri bentuknya menyerupai buah jengkol, tapi... ada tapinya lho. Tapi buah ini tidak ada baunya sama sekali. Cara mengolahnya pun hanya dengan direbus sampai empuk dan matang ditambah sejumput garam dan di dinginkan lalu di kupas dan.... taraaa.. jadilah buah lepiu rebus yang jadi camilan sambil ngopi atau ngeteh disore dan malam hari sambil berkumpul dengan sanak famili.
Buah lepiu ini tergolong kategori buah yang merambat ( entah apa namanya soalnya udah lupa pelajaran biologi ) karena pohonnya merambat seperti rotan. Tanaman pohon ini biasanya tumbuh subur di pedalaman hutan bagian hulu sungai kayan. Dan warga-warga disanalah yang memungutnya satu per satu dari tanah. Buahnya sendiri seperti buah petai/pete bergelantungan tinggi dipohonnya, tetapi warga hanya memungut buah yang sudah jatuh dan tersebar ditanah. Dalam sehari jika mereka sudah masuk ke hutan untuk mencari buah lepiu ini mereka terkadang hanya mendapat sekitar 4 kg saja. Sebenarnya pohon lepiu ini banyak, tapi jarang yang berbuah. Makanya harga lepiu ini jika dijual ke kota seperti Tanjung Selor dan Tanjung Palas harganya bisa mencapai 200 ribu per kilo. Wow awesome right?.
Di daerah hulu sendiri buah ini memang lebih murah dibanding dikota. Sekitar 50ribu - 70 ribu per kilonya. Tapi jarak tempuh yang bisa seharian mengarungi sungai dan biaya yang tidak murah menuju ke pedalaman ini lah yang membuat harga lepiu sangat mahal. Dan juga perjuangan warga yang berhari-hari mengumpulkan lepiu dihutan. Patut kita acungi jempol kawan-kawan sekalian.
Buah Lepiu Mentah

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus