Senin, 29 September 2014

Resep Roti Maryam/Canai Khas Kampung Arab

Roti yang satu ini adalah salah satu hidangan favorit orang-orang keturunan arab/india di Indonesia, terlebih di Bulungan tepatnya warga kampung arab. Roti maryam ini lebih nikmatnya disantap dengan hidangan kare ayam ataupun kambing.
Makanan khas ini biasanya hadir pada saat pesta-pesta pernikahan, rathib, hidangan buka puasa, sampai hidangan pada saat lebaran.

Nah berhubung lebaran idul fitri dan idul adha sebentar lagi, dan pastinya akan ada banyak makanan yang ingin dihidangkan untuk keluarga tercinta. Kali ini saya ingin berbagi resep roti maryam yang rasanya tak kalah dengan roti aslinya di tanah arab dan india sana.

Bahan :
- 500 gram tepung terigu
- 200 ml air hangat
- 1 butir telur
- 250 gram mentega/butter
- garam secukupnya

Cara membuat :
  1.  Pertama campurkan garam kedalam tepung, aduk rata sambil masukan telur dan  air sedikit demi sedikit. Aduk rata, masukan mentega kedalam adonan tepung, uleni sampai kalis dan tidak lengket ditangan
  2.  Ambil adonan yang sudah tidak lengket membentuk bulatan besar, lalu banting-banting diatas alas yang sudah ditaburi tepung, banting-banting adonan selama 10 menit agar adonan menjadi lembut. Diamkan adonan selama 30 menit  sambil ditutupi dengan kain serbet yang sudah dibasahi air lalu masukan kulkas selama 10 menit
  3. Ambil adonan sebesar telur ayam. Lalu gulung memanjang, setelah itu buat adonan melingkar spiral seperti obat nyamuk, lakukan terus sampai adonan habis
  4. Panaskan wajan anti lengket dengan api sedang sambil diberi mentega secukupnya
  5. Pipihkan adonan yang berbentuk spiral, lalu panggang pada wajan sampai berwarna kecoklatan
  6. Roti maryam siap disajikan selagi hangat bersama kari ayam/kambing, dan bisa juga disajikan dengan susu dan keju
Selamat mencoba...

"Lepiu" Buah Hutan Termahal di Bulungan

Lepiu, siapa warga Bulungan dan Kaltara yang tak mengenal buah ini.  Buah musiman yang hanya ada 3 sampai 5 tahun sekali ini menjadi buah langka yang sangat jarang kita temui dipasaran. Alhamdulillah tahun  2014 ini merupakan musim buah yang sangat berharga bagi saya. Tak hanya beragam buah hutan yang dapat saya temui seperti durian, duku, langsat, cempedak, mata kucing, elai, duyan, dll. saya juga senang karena bisa berjumpa kembali dengan buah imut yang satu ini, sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu terakhir saya makan buah ini. It's take a long time for us to see and eat that fruit.

Yaps, Lepiu-lah nama buah ini. entah darimana asal muasal nama ini diberikan. Tapi orang tua jaman dulu pernah cerita bahwa buah ini dinamakan lepiu karena bentuknya yang pipih dan melonjong membentuk tanda hati/love. Sebab itulah dinamakan Lepiu, plesetan dari kata I Love You. I think so.
Buah lepiu ini sendiri bentuknya menyerupai buah jengkol, tapi... ada tapinya lho. Tapi buah ini tidak ada baunya sama sekali. Cara mengolahnya pun hanya dengan direbus sampai empuk dan matang ditambah sejumput garam dan di dinginkan lalu di kupas dan.... taraaa.. jadilah buah lepiu rebus yang jadi camilan sambil ngopi atau ngeteh disore dan malam hari sambil berkumpul dengan sanak famili.

Buah lepiu ini tergolong kategori buah yang merambat ( entah apa namanya soalnya udah lupa pelajaran biologi ) karena pohonnya merambat seperti rotan. Tanaman pohon ini biasanya tumbuh subur di pedalaman hutan bagian hulu sungai kayan. Dan warga-warga disanalah yang memungutnya satu per satu dari tanah. Buahnya sendiri seperti buah petai/pete bergelantungan tinggi dipohonnya, tetapi warga hanya memungut buah yang sudah jatuh dan tersebar ditanah. Dalam sehari jika mereka sudah masuk ke hutan untuk mencari buah lepiu ini mereka terkadang hanya mendapat sekitar 4 kg saja. Sebenarnya pohon lepiu ini banyak, tapi jarang yang berbuah. Makanya harga lepiu ini jika dijual ke kota seperti Tanjung Selor dan Tanjung Palas harganya bisa mencapai 200 ribu per kilo. Wow awesome right?.
Di daerah hulu sendiri buah ini memang lebih murah dibanding dikota. Sekitar 50ribu - 70 ribu per kilonya. Tapi jarak tempuh yang bisa seharian mengarungi sungai dan biaya yang tidak murah menuju ke pedalaman ini lah yang membuat harga lepiu sangat mahal. Dan juga perjuangan warga yang berhari-hari mengumpulkan lepiu dihutan. Patut kita acungi jempol kawan-kawan sekalian.

Buah Lepiu Mentah