Jumat, 28 Oktober 2016

Wisata Kuliner di Tanjung Selor

Tanjung selor memang sedang berbenah diri. Ibukota dari provinsi termuda di Indonesia ini memang masih terbilang baru mulai menapaki perjalanan panjangnya. Dengan slogan "sekarang masih di belakang, kelak menjadi yang terdepan" menjadi pemicu semangat warganya untuk saling berinovasi dan berkreativitas memberikan yang terbaik agar Kalimantan Utara dapat menjadi provinsi termuda yang dapat melesat cepat pembangunannya tak kalah dengan provinsi lain yang lebih dulu terbentuk.

Berkaca dari sisi tempat hiburan dan wisata kuliner, Tanjung Selor terbilang sudah mulai berkembang pesat dari tahun-tahun sebelumnya. Ada beragam spot-spot yang menyuguhkan sajian kuliner beserta keunikannya masing-masing. Mulai dari angkringan, kafe, cake and bakery, jajanan ala gerobak (franchise), sampai restoran-restoran keren sudah bisa kalian temui di Tanjung Selor. Bisnis hiburan pun sudah mulai berani berinvestasi disini seperti tempat karaoke keluarga dan wisata bermain outbond.

Salah satu spot yang ramai setiap hari dikunjungi warga adalah wisata Kuliner Tepian Sungai Kayan (Kulteka). Disana terdapat beragam sajian yang pastinya membuat mulut kalian tidak bisa berhenti mengunyah. Dari makanan ringan seperti roti bakar sampai makanan utama seperti bakso, ayam bakar, nasi goreng dan berbagai pilihan sajian lainnya. Kulteka adalah salah satu spot yang recommended untuk kalian yang ingin memilih berbagai jenis makanan tapi malas untuk berjalan jauh. Karena lokasi wisata kulteka ini tak jauh dari pusat kota. Yaitu di jalan sabanar lama. Dan jika kalian beruntung disaat musim buah, kulteka akan dipenuhi dengan para penjual buah musiman yang menjajakan dagangannya di tenda-tenda yang memang disediakan pemerintah. Buah yang dijual juga bukan buah biasa, ada rambutan, durian, elai, langsat, duku, mata kucing, dan buah-buah musiman lainnya yang bisa langsung kalian nikmati disana.

Selain kulteka, ada juga spot yang tak kalah keren. Yaitu jajanan ala gerobak atau yang lebih dikenal dengan nama franchise di area Tugu Cinta Damai (TCD) yang letaknya tidak jauh dari kulteka. Letak spot yang strategis dipinggir jalan dan mudah dijangkau serta suasana yang cukup keren ini menjadi daya tarik warga untuk datang kemari.
Disini para pedagang mulai menjajakan dagangan mereka pada sore hingga malam hari, karena memang sore hari di area TCD ini ramai warga yang melakukan kegiatan. Entah itu jogging (karena memang ada jogging track di area ini), atau hanya sekedar nongkrong di "siring" sungai kayan.
Spot yang satu ini memang selalu ramai setiap harinya, suasana nongki disini melepas penat sambil menunggu senja menikmati jajanan dan berkumpul bersama orang terkasih. Hmm.. momen berharga sekali ya ! 😊

Jadi jika kalian baru pertama kali ke Tanjung Selor dan bingung mencari wisata kulinernya ada dimana. Nah, dua spot diatas mungkin bisa menjadi referensi buat kalian.

Senin, 25 April 2016

Musik di Bulungan

Berkembangnya seni musik di Bulungan tak lepas dari tangan-tangan dingin para seniman.

Kita flashback sekira 10-15 tahun terakhir. Musik di Bulungan berada dalam masa kejayaannya. Anak muda yang berbakat menampilkan keahlian bermusik mereka di panggung-panggung yang diwadahi oleh pemerintah maupun swasta.
Saya yang ketika itu masih di usia sekolah pun mendapatkan "panggung" saya sendiri. Ada banyak festival yang diadakan baik itu dari pemerintah, radio, taman pendidikan al qur'an, hingga pensi di sekolah, dan masih banyak lagi.

Menjamurnya band-band di era millenium juga layak di apresiasi. Kompilasi lagu mereka yang seliweran di radio lokal pun ramai di request penikmat musik Bulungan.
Studio band juga tidak se-lengang sekarang. Dulu tiap sore selalu ada saja yang latihan bermusik. Entah semangat apa yang mereka punya. Tidak ada iming-iming ikut festival ini itu. Mereka hanya berlatih, memperdalam skill bermain musiknya. Atau hanya sekedar bermain mengisi waktu luang.

Berbeda hal nya dengan sekarang. Saat ini industri musik di Bulungan terlihat lesu tak bergairah. Hanya beberapa pemusik yang masih tetap konsisten bermain musik dan berlatih.
Hal ini bukan tidak ada penyebabnya. Kurangnya wadah bagi para musisi untuk menampilkan karya, kemampuan, dan keahlian lah yang membuat situasi seperti sekarang ini. Adapun mereka yang konsisten bermusik, tetapi jarang mendapat panggung di kota sendiri. Mereka mendapatkan panggung mereka di kota lain. Terdengar miris memang. Ketika pemerintah sibuk mencanangkan kreatifitas anak muda membangun SDM yang berkualitas, tapi kualitas itu ditampilkan di kota lain.
Atau yang lebih menyedihkan, mereka yang berkualitas malah tidak mendapatkan kesempatan untuk menampilkannya. Istilahnya mereka bermain musik tapi hanya tetangga sekitar rumah lah yang menjadi penikmatnya😔.

Setidaknya ketika pemerintah mengadakan perhelatan besar musisi lokal dilibatkan, diajak, dirangkul untuk bisa tampil di panggung sendiri. Tidak masalah dengan penampilan yang kaku, biasa saja, atau cibiran penonton yang menganggap tak baik. Tapi ini merupakan satu lompatan awal musisi untuk saling belajar. Kalau tidak diberi panggung bagaimana mereka bisa belajar? Tidak ada musisi yang langsung hebat ketika bermain diatas panggung. Mereka memulainya melalui acara-acara kecil, dikota sendiri, mental di tempa untuk menampilkan yang terbaik.

Ada yang rindu masa-masa ketika seni musik berjaya di Bulungan ?
Ketika ada banyak pentas, baik itu di lapangan agatish, di depan pujasera, di TPA al-khairat kampung arab, masjid raya, radio RSPD, pensi di sekolah-sekolah.
Ada berbagai kegiatan baik itu lomba karaoke, grup vokal, festival band, kompilasi band.
Semua musisi menyatu dari musik modern, tradisional, metal, sampai musik islami pun mendapat perhatian dan tempat di hati masyarakat Bulungan.

Ayo anak muda Bulungan, hidupkan kembali gairah bermusik di daerah kita tercinta ini. Dan semoga pemerintah memberi perhatian yang lebih untuk musisi Bulungan agar karya-karya mereka bisa lebih didengar dan ditampilkan. 😊 semangaaaat genks !

Senin, 04 April 2016

Hidup Tanpa Passion

Berbicara soal passion atau hasrat maupun minat seseorang terhadap sesuatu memang bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Passion itu sendiri ada di dalam diri manusia bukan hadir begitu saja, ada banyak faktor yang mempengaruhi seperti gen, lingkungan, pola asuh keluarga dan masih banyak lagi.
Jadi passion itu bisa terdeteksi sejak usia dini.

Di masa sekarang ada banyak orang yang kuliah, bekerja dan hidup tidak sesuai passion nya. Menjalani apa yang bukan minat itu ternyata menyakitkan. Ketika sebagian orang bangun tidur dengan rasa bahagia, kita yang "terpaksa" bangun tidur dengan seonggok gumpalan hitam oleh keluh kesah di hati yang entah kapan saja bisa meledak.
Saat sebagian orang living a day dengan penuh semangat, kita dengan semangat yang sudah tinggal di ubun-ubun hanya ingin cepat pulang dan tidur dirumah. Dan di saat sebagian orang bergegas pergi ke peraduan merangkai mimpi untuk mengisi energi baru di esok hari. Kita yang hanya terpaku pada ponsel, berselancar di dunia maya, meratapi diri dengan apa yang seharian ini dijalani.

Mungkin ada banyak orang diluar sana yang pernah merasakan hal serupa. Living a life without passion is like a zombie. Kita hidup tapi tak merasakan apa-apa. Flat, kosong, tidak bergairah. Bersenda gurau dengan sahabat pun rasanya nothing special. It felt like " I just lost my self, I didn't even recognize me. Who am I, who I used to be" dan banyak lagi perasaan aneh yang berkecamuk di dalam hati.

Sebenarnya semua akan baik-baik saja dan terasa mudah saja jika dari awal seseorang mengenali bakat, hobby, dan minatnya. Tapi banyak orang mengesampingkan hal itu. Contoh, seorang anak yang suka memasak dan bisa memasak sejak kecil dan orang tuanya tahu itu. Tapi ketika dewasa di haruskan kuliah kedokteran. Memang si anak akan menuruti karena itu untuk kebaikan masa depannya. Saat dia sudah "terlanjur" bekerja, passion seseorang tidak mungkin bisa hilang begitu saja. Dia seorang dokter yang cerdas, tapi tak ada yang tahu didalam hatinya dia merasa "terpaksa" melakukan semuanya. Dia tidak bahagia. Dia yang sejak awal merasa passion nya bukan disitu akan berpikir "ah yang penting aku bekerja, yang penting aku dapat gaji, yang penting kewajiban sudah ku lakukan" dia menjalani hari-harinya dengan serba ala kadarnya.

Untuk berani ambil resiko rasanya tak mungkin. Keluar dari zona nyaman juga rasanya enggan. Itu yang pasti orang pikirkan ketika ingin menjalani passion nya. Tapi tak ada salahnya mencoba. If you fail, at least you've tried your best. Dan tak akan ada penyesalan di akhir.

Bekerja sesuai passion atau minat itu menyenangkan lho. Kita bisa bahagia setiap hari karena mencintai setiap detik waktu yang dihabiskan. Mengerjakan pekerjaan dengan ikhlas. Karena ketika kita cinta dengan pekerjaan maka hati akan lebih ikhlas bekerja. Jika ada orang yang appreciate dengan hasilnya kita pun akan semakin bangga.

Seorang sahabat pernah berkata pada saya, "kau masih muda, jalanmu masih panjang. Tidak ada salahnya mencoba. Mumpung belum mempunyai tanggung jawab pasangan dan anak. Coba saja, jika sudah punya tanggung jawab kau akan susah dan berat melangkahkan kakimu untuk keluar" ~ Bang Ded.
Ada benarnya, jika sudah terlanjur memiliki tanggung jawab lebih. Sebagian orang lebih memilih bekerja dan menjalani hidup walau tanpa passion, serta mengesampingkan fakta bahwa dia mempunyai keahlian lain yang bisa bermanfaat. Bekerja ya bekerja saja, yang penting gaji cukup untuk anak istri.
Apa segini saja perjuangan kita sebagai manusia ?
Come on...

Manusia diciptakan unik. Masing-masing orang pasti punya kelebihan. Ayolah.. mulai sekarang yakinkan dirimu. Walau kamu merasa tidak punya kelebihan, coba lihat lebih jeli pasti ada satu hal yang membuatmu spesial di muka bumi ini.
Just don't give up. Memberanikan diri untuk out of the box walaupun akan ada banyak penolakan dari orang disekitarmu setidaknya itu lebih baik. Daripada duduk diam terpaku mengubur passion.
So, apapun passionmu entah itu kesenian, kerajinan tangan, kuliner, musik, dan lain-lain. Just try make it happen and do it with your heart. 😊😙

Senin, 29 September 2014

Resep Roti Maryam/Canai Khas Kampung Arab

Roti yang satu ini adalah salah satu hidangan favorit orang-orang keturunan arab/india di Indonesia, terlebih di Bulungan tepatnya warga kampung arab. Roti maryam ini lebih nikmatnya disantap dengan hidangan kare ayam ataupun kambing.
Makanan khas ini biasanya hadir pada saat pesta-pesta pernikahan, rathib, hidangan buka puasa, sampai hidangan pada saat lebaran.

Nah berhubung lebaran idul fitri dan idul adha sebentar lagi, dan pastinya akan ada banyak makanan yang ingin dihidangkan untuk keluarga tercinta. Kali ini saya ingin berbagi resep roti maryam yang rasanya tak kalah dengan roti aslinya di tanah arab dan india sana.

Bahan :
- 500 gram tepung terigu
- 200 ml air hangat
- 1 butir telur
- 250 gram mentega/butter
- garam secukupnya

Cara membuat :
  1.  Pertama campurkan garam kedalam tepung, aduk rata sambil masukan telur dan  air sedikit demi sedikit. Aduk rata, masukan mentega kedalam adonan tepung, uleni sampai kalis dan tidak lengket ditangan
  2.  Ambil adonan yang sudah tidak lengket membentuk bulatan besar, lalu banting-banting diatas alas yang sudah ditaburi tepung, banting-banting adonan selama 10 menit agar adonan menjadi lembut. Diamkan adonan selama 30 menit  sambil ditutupi dengan kain serbet yang sudah dibasahi air lalu masukan kulkas selama 10 menit
  3. Ambil adonan sebesar telur ayam. Lalu gulung memanjang, setelah itu buat adonan melingkar spiral seperti obat nyamuk, lakukan terus sampai adonan habis
  4. Panaskan wajan anti lengket dengan api sedang sambil diberi mentega secukupnya
  5. Pipihkan adonan yang berbentuk spiral, lalu panggang pada wajan sampai berwarna kecoklatan
  6. Roti maryam siap disajikan selagi hangat bersama kari ayam/kambing, dan bisa juga disajikan dengan susu dan keju
Selamat mencoba...

"Lepiu" Buah Hutan Termahal di Bulungan

Lepiu, siapa warga Bulungan dan Kaltara yang tak mengenal buah ini.  Buah musiman yang hanya ada 3 sampai 5 tahun sekali ini menjadi buah langka yang sangat jarang kita temui dipasaran. Alhamdulillah tahun  2014 ini merupakan musim buah yang sangat berharga bagi saya. Tak hanya beragam buah hutan yang dapat saya temui seperti durian, duku, langsat, cempedak, mata kucing, elai, duyan, dll. saya juga senang karena bisa berjumpa kembali dengan buah imut yang satu ini, sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu terakhir saya makan buah ini. It's take a long time for us to see and eat that fruit.

Yaps, Lepiu-lah nama buah ini. entah darimana asal muasal nama ini diberikan. Tapi orang tua jaman dulu pernah cerita bahwa buah ini dinamakan lepiu karena bentuknya yang pipih dan melonjong membentuk tanda hati/love. Sebab itulah dinamakan Lepiu, plesetan dari kata I Love You. I think so.
Buah lepiu ini sendiri bentuknya menyerupai buah jengkol, tapi... ada tapinya lho. Tapi buah ini tidak ada baunya sama sekali. Cara mengolahnya pun hanya dengan direbus sampai empuk dan matang ditambah sejumput garam dan di dinginkan lalu di kupas dan.... taraaa.. jadilah buah lepiu rebus yang jadi camilan sambil ngopi atau ngeteh disore dan malam hari sambil berkumpul dengan sanak famili.

Buah lepiu ini tergolong kategori buah yang merambat ( entah apa namanya soalnya udah lupa pelajaran biologi ) karena pohonnya merambat seperti rotan. Tanaman pohon ini biasanya tumbuh subur di pedalaman hutan bagian hulu sungai kayan. Dan warga-warga disanalah yang memungutnya satu per satu dari tanah. Buahnya sendiri seperti buah petai/pete bergelantungan tinggi dipohonnya, tetapi warga hanya memungut buah yang sudah jatuh dan tersebar ditanah. Dalam sehari jika mereka sudah masuk ke hutan untuk mencari buah lepiu ini mereka terkadang hanya mendapat sekitar 4 kg saja. Sebenarnya pohon lepiu ini banyak, tapi jarang yang berbuah. Makanya harga lepiu ini jika dijual ke kota seperti Tanjung Selor dan Tanjung Palas harganya bisa mencapai 200 ribu per kilo. Wow awesome right?.
Di daerah hulu sendiri buah ini memang lebih murah dibanding dikota. Sekitar 50ribu - 70 ribu per kilonya. Tapi jarak tempuh yang bisa seharian mengarungi sungai dan biaya yang tidak murah menuju ke pedalaman ini lah yang membuat harga lepiu sangat mahal. Dan juga perjuangan warga yang berhari-hari mengumpulkan lepiu dihutan. Patut kita acungi jempol kawan-kawan sekalian.

Buah Lepiu Mentah

Jumat, 09 September 2011

Tradisi Beawadh / Iwadh Warga Kampung Arab - Bulungan

Hari raya atau lebaran merupakan hari yang suci yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia maupun di Indonesia. Berbagai macam cara orang menyambut datangnya hari raya, baik itu dengan mengadakan pawai takbiran dimalam harinya sambil menggemakan takbir tanda kemenangan, sampai menyalakan kembang api yang meriah. Sama halnya dengan warga Kampung Arab di Bulungan - Kalimantan Utara. Setiap tahun diadakan pawai takbiran dan pesta kembang api di tepian sungai kayan. Warga yang menyaksikan cukup antusias dan terhibur dengan kemeriahan pawai yang bertabur lampu-lampu hias dan alunan takbir yang menggema. Apalagi menyaksikan kembang api yang tak henti-hantinya menghiasi langit malam hari raya di kampung arab, semuanya menambah syahdu suasana menyambut idul fitri tiba. Sama halnya dengan idul fitri, di hari raya idul adha juga diadakan kegiatan serupa pada malam takbiran.

Kegiatan warga kampung arab di hari raya idul fitri maupun idul adha sejatinya sama tak ubahnya dengan kegiatan warga di daerah-daerah lain. Warga berbondong-bondong menuju masjid di pagi hari untuk melaksanakan shalat ied. 
Masjid jami' Ahmad Al-Kaff adalah masjid tempat berkumpulnya mayoritas warga keturunan arab di Bulungan. Setelah melaksanakan shalat ied berjama'ah di masjid, warga saling bersalaman dan bermaaf-maafan. Di hari pertama lebaran ini warga masing-masing berkumpul dan bersilaturahim dengan keluarga dan kerabat. Sampai tibalah keesokan harinya pada hari kedua lebaran, ada satu hal menarik yang biasa dilakukan warga keturunan arab di Bulungan, yaitu be'awadh atau iwadh.

Kata Iwadh berasal dari Bahasa Arab, yaitu ada-yaudu-audan yang berarti kembali. Maksudnya adalah kembali suci. selain bermaksud memfitrahkan diri dengan cara saling bermaafan, Iwadh juga menjadi media pemersatu bagi jamaah yang selama ini tidak pernah bertemu. Iwadh tak digelar serampangan. Tradisi ini hanya dilakukan warga keturunan Arab di Bulungan. Pesertanya pun hanya laki-laki. Iwadh digelar saban tahun. Setiap hari kedua Lebaran. Inti tradisi ini adalah menebalkan tali silaturahim antar sesama keturunan Arab di Bulungan. 

Tradisi Iwadh setiap tahunnya selalu meriah. Iwadh dirayakan dengan tradisi mengunjungi warga muslim keturunan Arab sambil membaca puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW serta memanjatkan doa bagi pemilik rumah. Selain bersalam-salaman dan bermaafan, kegiatan ini juga dibumbui pemberian hadiah dari sang tuan rumah, baik itu makanan, minuman, souvenir sampai peralatan rumah tangga. Menurut mereka, tradisi ini sudah dilakukan turun temurun dari generasi pendahulunya. 

Iwadh merupakan salah satu peninggalan ulama besar Habib Idrus bin Salim Al Djufrie. Beliau dikenal dengan sebutan Guru Tua dan diyakini sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. Be'awadh atau iwadh ini biasanya diikuti ratusan warga keturunan arab yang nantinya satu per satu rumah mereka akan dikunjungi, sesi berkunjung ini memakan waktu seharian dari pagi hingga sore hari, dari kampung arab sampai dengan kunjungan ke pesantren al-khairaat yang ada di jelarai.

Selain di Bulungan, tradisi ini juga dijalankan di sejumlah wilayah lain seperti di Palu - Sulawesi Tengah (tempat asal muasal tradisi ini dilakukan oleh Habib Idrus bin Salim Al Djufrie), dan hingga kini masih terus dipertahankan. Bahkan, tradisi Iwadh ini juga telah diikuti oleh banyak umat muslim non-Arab di Bulungan.

Sabtu, 07 Mei 2011

Bulungan di mata para pemuda

apa yang pertama kali kalian pikirkan ketika mendengar kata "Bulungan" ?
Yah, salah satu gelanggang olahraga (GOR) di daerah kebayoran baru jakarta selatan. tapi tahukah kalian jika Bulungan itu sendiri berasal dari sebuah kabupaten di kalimantan timur bagian utara yang saat ini dalam masa peralihan (jika UU sudah ditetapkan) dari daerah pemekaran menjadi daerah ibukota? yaitu kalimantan utara (semoga UU-nya cepat di sahkan).
nah, inilah sekelumit cerita tentang Bulungan di mata kami para remaja-remajanya.

Konon cerita asal-usul suku Bulungan dimulai dari kisah kehidupan Ku Anyi, Ku Anyi adalah seorang kepala Suku Dayak Hupan (Dayak Kayan Uma Apan) mereka tinggal di hilir Sungai Kayan, mula-mula mendiami sebuah perkampungan kecil yang penghuninya hanya terdiri atas kurang lebih 80 jiwa di tepi Sungai Payang, cabang Sungai Pujungan.
Hingga masa tuanya Ku Anyi ternyata belum dikaruniai seorang anak. ketika suatu hari, pada saat Ku Anyi berburu di hutan, ia mendengar suara aneh. Anjing berburunya menyalak keras kearah sebatang bambu betung dan sebutir telur diatas pohon Jemlai. Karena rasa penasarannya, bambu betung dan sebutir telur tersebut dibawanya pulang dan diletakan di perapian dapur. Keesokan harinya kedua benda tersebut berubah menjadi dua sosok bayi mungil laki-laki dan perempuan. Akhirnya, Ku Anyi dan Istrinya memberikan nama Jau Iru yang artinya “si Guntur Besar” pada bayi laki-laki dan Lemlai Suri pada bayi perempuan tersebut, keduanya dipelihara dengan baik hingga dewasa.
Peristiwa aneh ini oleh masyarakat dinamakan Bulongan (bambu dan telur), pada perkembanganya menjadi Bulungan. Versi lainnya menyebutkan Bulungan berasal dari perkataan “ Bulu Tengon”, karena perubahan dialek dari bahasa bulungan kuno ke bahasa melayu menjadi Bulungan. sebutan ini digunakan sampai saat ini.(http://muhzarkasy-bulungan.blogspot.com/2010/07/asal-usul-nama-suku-bulungan-dalam.html)

kembali ke zaman sekarang, kultur yang ada di Bulungan yang kaya akan peristiwa sejarahnya lantas membuat para remajanya hidup dalam lingkup budaya yang sangat indah.

sebagai salah satu pemuda yang ada dibulungan, saya sendiri sangat merasakan sekali keterikatan antara "anak tanjung" (sebutan buat remaja di Bulungan) dengan kebiasaan dan budaya yang dilahirkannya. walaupun teman angkatan saya banyak yang kuliah diluar Bulungan seperti di samarinda, bahkan ada yang di pulau jawa. hal ini tak lantas melunturkan budaya Bulungan yang sejak kecil mempengaruhi tumbuh kembang kami.
seperti halnya bahasa, walaupun udah bertahun-tahun meninggalkan Bulungan, ciri khas bahasa Bulungan tak bisa ditinggalkan para remajanya adalah kata-kata "bah", "duy", dan logatnya yang khas selalu menghiasi kata-kata kami saat berbicara.

bulungan yang terdiri dari 3 mayoritas suku (bulungan,dayak,tidung) ini pun hidup tentram berdampingan, dan inilah yang membuat para remajanya selalu rindu.
mungkin ada magnet tersendiri dari dalam kota ini yang membuat kami selalu ingin pulang ketika berjauhan.

home sweet home, itulah kata yang tepat buat kota ini.
kota kecil tapi punya arti besar buat kami. memang bosan kalo punya kota kecil yang tidak punya sesuatu yang "wah" didalamnya, tapi setelah mencoba tinggal dikota besar yang penuh dengan gemerlapnya, ternyata bosan juga. kedamaian itu loh yang tidak ada dikota besar.